Cerpen

Teman Tak Kasat Mata

Entah siapa yang harus disalahkan atas semua ini, atas kekuatan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana mengendalikanya.
Setiap malam kupingku rasanya selalu ramai dengan pembicaraan yang tidak jelas dan dihadapanku banyak sekali sosok yang tidak aku kenal. Mereka menyeramkan.
Aku sendiri rasanya sudah lelah dengan pemandangan ini. Ya! “Mereka” yang kalian sebut hantu yang setiap malam mengoceh dan lalu-lalang di hadapanku dengan berbagai macam bentuk.

Aku indi mungkin nama itu yang membuat aku bisa melihat “mereka” entahlah, tetapi ini sangat menggangu. Ini sudah sering sekali terjadi, hantu wanita yang belakangan aku tahu namanya adalah Ratih setiap malam datang ke kamarku, berdiri di belakang pintu dengan wajah yang pucat dingin tanpa berkata apaun dari bibirnya yang sedikit biru. Aku merasa sangat terganggu awalnya, karena aku tahu ia menatapku dengan tatapan kosong tapi semakin lama aku semakin terbiasa dengan tatapanya.

Ratih belum sama sekali aku sapa, mungkin itu sebabnya ia hanya diam dan menatapku. tepat setelah aku pulang kuliah sekitar jam sepuluh malam, aku langsung pulang kerumah dan benar saja Ratih sudah menungguku tetapi kali ini Ratih duduk di atas lemari baju yang lumayan tinggi. ia menangis. Aku yang sudah seharian lelah berusaha untuk tidak mendengarnya, tetapi suara itu semakin mengganggu dan rasanya semakin pilu. Aku menatap mata kosong itu, seperti ada cerita menyedihkan di dalamnya. “Kemarilah duduk denganku, siapa namamu?” tanganku melambai kepadanya. Ratih dengan cepat duduk disebelahku dengan kepala tertunduk. ia masih saja menangis. “Siapa namamu? Aku indie. Ada apa kamu kemari?” aku bertanya lagi, tapi pertanyaanku hanya dijawab dengan senyuman menyeramkan dari bibirnya yang biru.

“Jangan melihatku begitu! kau ini menakutkan!” Ucapku kepadanya dengan agak marah.

“Aku Ratih, Aku ingin bercerita kepadamu.” Jawabnya lesu.

“Baiklah Ratih, sudah sangat malam. Bisakah kita bercerita esok hari?”

Wajah Ratih langsung tertunduk dan ia mulai kembali menangis tanpa air mata.

“Baiklah ceritakan Ratih aku akan dengarkan.”

***
Aku Ratih, usiaku 21 tahun sebelum aku hidup tanpa raga. Aku sering sekali mengunjungi Indi karena, aku tinggal di pohon depan rumah indi. Aku sering bernyanyi, menangis dan tertawa. Mungkin indi dengar itu setiap malam. Belakangan aku semakin sering mengunjungi Indi karena ada yang ingin aku sampaikan kepadanya. Tentang kisahku sebelum aku mati.

Dulu aku adalah anak kepala desa, Semua jawara-jawara yang ada di kampungku menginginkan aku untuk menjadi istrinya atau hanya sekedar tidur bersama mereka. Aku tidak tertarik dengan jawara-jawara di kampungku karena aku sudah mempunya kekasih di kampung seberang. Aku tahu ini sangat berbahaya. Entahlah, warga sangat mengutuk hal itu. Tapi aku dan Rudi saling mencintai, tidak memperdulikan hal itu. Ia lelaki terbaik, pertemuanku dengan Rudi sangat mengesankan ia membantuku menyelamatkan diri dari jawara-jawara di kampung sebelah. Sejak saat itu kita sering bertemu diam-diam pada malam hari. Ia lelaki tampan, kulitnya sawo matang, ia punya kumis yang tipis menghiasi bibir nya, ia suka sekali menggunakan baju kaos putih polos dengan celana merah kebanggaan nya menandakan kalau ia juga jawara di kampungnya. Senyuman Rudi sangat jarang disajikan, tapi ia selalu menyajikan itu kepadaku.

Suatu malam saat sedang lelap tidur Ayah mendobrak pintu kamarku, di luar hujan deras dan petir bersautan kencang sekali.

“Ratih! bangun kamu!” Ayah menyambak rambutku hingga aku jatuh dari ranjang ke lantai.

“Sabar! ya Tuhan!” Ibuku mulai menangis dibalik badan Ayah.

“Ada hubungan apa kamu dengan Rudi tikus kampung sebelah?!” tanya Ayahku dengan matanya yang merah penuh dengan urat mata nya. sampai sekarang tatapan itu masih sangat melekat di kepalaku.

“Ayah dapat kabar dari siapa?” tanyaku menangis ketakutan.

“Tidak perlu tahu dari siapa! Ayah sudah minta jawara kampung buat tangkap itu Rudi! Kamu tahu kesialan apa Ratih yang akan menimpa kita!”

“Aku dan Rudi saling cinta! kita berdua mencintai satu sama lain! kesialan apa?! RATIH TIDAK PERCAYA!”

Tamparan keras mendarat ke pipiku sampai mataku agak gelap dan rahangku merasakan sakit.

“Besok kamu akan Ayah nikahkan dengan keponakan tuan demang! dia bisa tolong kita kalau belanda berhianat. Kita juga akan hidup enak. Ayah juga dapat tempat yang enak disana.”

“Ayah menjual Ratih?! Cuhhh! sampai mati Ratih tidak mau yah.”

“Kurang ajar! Ayah tidak mau tau! kamu jangan kemana-mana besok kamu harus ketemu sama keponakan tuan demang! Rudi juga pasti malam ini akan mati!”

“Ayah jahat! Ratih tidak rela. Rudi orang baik! Ratih cinta sama Rudi.”

Ayah dan Ibu meninggalkanku dan menutup pintu kamarku keras. Aku yang sangat khawatir dengan keadaan Rudi hanya bisa menangis dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada Rudi.

Saat aku sedang menangis di sudut kamar, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak bisa keluar rumah untuk bertemu Rudi.
“Tok tok tok” jendelaku berbunyi, aku langsung bangkit dari dudukku dan membuka jendelaku.

 

“Rudi!” Aku langsung meraih wajahnya.

“Ratih, bungaku. kau menangis? kenapa?” tanya nya dengan senyuman yang begitu tenang.

“Apa kamu tidak mendengar kabar nya?”

“Ya aku sudah tahu Ratih.”

“Kenapa Rudi? Kamu tidak sedih?”

“Tidak sayang, untuk apa? Aku sudah yakin memilikimu Ratih dan tidak ada satu orangpun yang bisa mengambilmu dariku.” ia kembali melempar senyum nya. tanganya menggengam tanganku erat.

“Ayah bilang besok aku harus bertemu dengan kepoakan tuan demang, Rudi. Ini sungguh tidak adil!”

“Jangan menangis, Aku kehilangan cahaya dari senyumu jika kau menagis Ratih. Aku punya hadiah untukmu agar kamu tidak bersedih lagi.”

“Rudi?”

“Sungguh, berjanjilah tidak akan bersedih lagi. mendekatlah biar aku hapus air mata ini.” ia mengusap pipiku halus.

“Baiklah, aku berjanji.”

“Ini adalah sisir kesayangan ibuku, aku sudah minta ijin kepadanya untuk memberikan kepadamu Ratih.”

“Ini cantik sekali Rudi. Terimakasih. Boleh aku pakai sekarang?” Aku mengambil sisir dari besi itu. hanya ada tiga gigi di sisir cantik itu yang tengah sedikit panjang dan runcing. Aku memakainya melilitkan rambutku dan biarkan sisir itu menghiasinya.

“Ratih kau cantik sekali.” ia menarik kepalaku dan menciumku.

“Rudi bawa aku pegi.” pintaku padanya.

“Ratih dengarkan aku, besok aku menunggumu di bukit biasa, jangan bawa apapun. Setelah ini tidurlah dan sebelum fajar tinggi temui aku. Aku akan menunggumu. Ibuku sudah tahu kabar ini, ia akan menunggu kita dirumah pamanku.”

“Baiklah, Aku mengerti. Aku mencintaimu Rudi.”

“Aku juga sangat mencintaimu. Tidurlah, jangan menangis lagi.”

Aku menutup jendelaku dan beranjak ke ranjangku, berusaha untuk tidur. Sesekali menarik nafas panjang menenangkan diriku dari ketakutan. Aku percaya Rudi akan membawa aku pergi dari sini dan menjalani hidup yang baru.

Rasanya belum lama aku tertidur suara bising sudah membangunkanku “Astaga apakah sudah fajar?” Aku melihat keluar jendela langit masih gelap.
Aku beranjak dari ranjangku dan mencoba membuka pintu ternyata pintuku sudah tidak di kunci oleh Ayah. Aku keluar rumah, banyak warga yang mengumpul di depan rumahku. Mereka membawa obor dan wajah mereka bahagia sekali. Aku menghampiri satu lelaki yang sedang asik berjoget “Mas, kenapa ramai sekali?” ia berhanti berjoget dan menjawab “Disana, di pinggir sungai tempat biasa ibu-ibu nyuci ada mayat jawara kampung sebelah.”

Seketika tubuhku lemas, nafasku terasa sesak. tanpa berpikir panjang. Aku berlari menembus kerumunan orang-orang yang sedang meayakan tradisi itu. Aku terpontang panting, nafasku terpompa cepat sekali. sesampai di pinggir sungai. Jasad itu masih ada. Aku mendekati jasat itu dan ambruk disebelah nya setelah aku melihat Rudi yang tergeletak di hadapanku. Aku menagis, hanya menagis, mengerakan tubuh Rudi berharap Rudi hidup kembali, di bajunya yang putih sudah berlumuran darah. ia di bunuh! mereka sangat kejam. Aku yang sudah ke hilangan arah, membungkukan tubuhku mencium bibir Rudi untuk yang terakhir kalinya. Aku mengambil sisir yang ada di kepalaku, mengayunkanya ke atas kepalaku dan mendaratkan nya keras di dadaku. perlahan pandanganku kabur, tubuhku ringan dan rasanya melayang.

Tetapi sampai sekarang aku masih merasakan kerinduan pada Rudi. Aku sering menangis di pohon karena sedih, karena dadaku sakit. Sampai sekarang. Jika kalian dengar tangisan itu, mungkin itu aku yang sedang menangis di sudut kamar kalian.

***
Pandangan Ratih kembali kepadaku. ia tersenyum menakutkan “Terimakasih Indi. Sudah mendengarkan ceritaku.”

“Sama-sama Ratih. maafkan aku tidak mengajakmu bicara sejak lama.”

“Tidak apa Indi. Aku hanya ingin kau dengar.”

“Baiklah, kembalilah ke rumahmu. Aku ingin beristirahat.”

 

Ratih tersenyum dan terbang melesat menembus kamarku.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top